Dunia akan meninggalkan kita dan akhirat akan menghampiri kita. Masing-masing memiliki anak-anak. Jadilah kalian anak-anak akhirat, jangan menjadi anak-anak dunia. Hari ini di dunia hanya ada amal tanpa hisab tetapi esok di akhirat kelak yang ada adalah hisab tanpa amal." (HR. Bukhori).
Eps10 Pendekar Sakti Im Yang Karya Rajakelana "cici. . ! jika tawaran suhengku cici tolak lalu kenapa pula tawaranku cici tolak!, apakah kami ini tidak pantas cici !?" Gugup can-hang-bi
Dunia di tangan, akhirat di hati โข Jutawan beriman. Doa Abu Bakar ra: "Jadikanlah kami kaum yang memegang dunia dengan tangan kami, bukan hati kami." Dan doa sahabat Umar bin Khattab: "Ya
1 Golongan yang baik asal-usulnya, 2. Golongan yang jahat asal-usulnya. 3. Golongan yang asal-usulnya baik dan jahat. Manfaat mempelajari akhlak adalah untuk membuka mata hati seseorang agar dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, serta memberi penjelasan tentang bahayanya berlaku jahat. 2.
SumateraBarat menyimpan sejuta keunikan yang tidak akan anda temukan di belahan bumi manapun, keunikan budaya adalah salah satu daya tarik tersendiri dari rana *!infodunia!Fakta Unik!Hiburan!Teknologi!Otomotif!KPOP Lainnya. Artikel. Berita. Galeri. Cerita.
Seemore of Dunia di tangan Akhirat di hati. on Facebook. Log In. Forgot account? or. Create new account. Not now. Pages Other Community Dunia di tangan Akhirat di hati.
B87Ua0x. Perasaan baru kemarin masuk SMA, sekarang sudah mau kuliah. Perasaan baru kemarin anak kita main-main dan kita gendong-gendong, sekarang sudah minta nikah. Perasaan baru kemarin anak nikah, sekarang sudah memberi banyak cucu. Perasaan baru kemarin bertemu dengan sahabat-sahabatku, sekarang satu-per satu mereka mulai berpulang menghadap Allah, di usia yang sudah puluhan tahun ini. Demikianlah, dunia [โฆ] The post Dunia Di Tangan, Akhirat Di Hati first appeared on Majelis Tabligh Muhammadiyah. Perasaan baru kemarin masuk SMA, sekarang sudah mau kuliah. Perasaan baru kemarin anak kita main-main dan kita gendong-gendong, sekarang sudah minta nikah. Perasaan baru kemarin anak nikah, sekarang sudah memberi banyak cucu. Perasaan baru kemarin bertemu dengan sahabat-sahabatku, sekarang satu-per satu mereka mulai berpulang menghadap Allah, di usia yang sudah puluhan tahun ini. Demikianlah, dunia ini terasa sangat sebentar, sedangkan akhirat adalah kampung abadi, kekal dan dikekalkan selama-lamanya. Tetapi, mengapa kita selalu melupakan akhirat? Dunia ini sangat singkat, jika dibandingkan dengan kehidupan satu hari di akhirat yang setara tahun di dunia. Allah berfirman โSesungguhnya sehari disisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu.โ QS. Al Hajj 47 Umur manusia rata-rata adalah 60-70 tahun, sebagaimana dalam hadis โUmur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebutโ. HR. Ibnu Majah Jika satu hari akhirat sama dengan tahun, sementara umur manusia 60-70 tahun rata-rata= 65, maka kehidupan di dunia kurang lebih hanya 1,5 jam saja kehidupan di akhirat. Karenanya, berbagai kesenangan dunia yang melalaikan kita akan akhirat, adalah kesenangan yang amat sangat sebentar. Allah berfirman โKesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang- orang yang bertakwa.โ QS. An NIsaโ 77 โKehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.โ QS. Ali Imran 185 Semoga kita selalu ingat kampung abadi akhirat dan dunia tidak melalaikan kita Jadikan motto hidup kita Dunia di tangan, Akhirat selalu di hati. * * Ferry Is Mirza DM, Aktivis Muhammadiyah dan Sekretaris Dewan Kehormatan PWI JatimThe post Dunia Di Tangan, Akhirat Di Hati first appeared on Majelis Tabligh Muhammadiyah.
0% found this document useful 0 votes2 views22 pagesOriginal TitleDunia di Genggaman, Akhirat di HatiCopyrightยฉ ยฉ All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes2 views22 pagesDunia Di Genggaman, Akhirat Di HatiOriginal TitleDunia di Genggaman, Akhirat di HatiJump to Page You are on page 1of 22 You're Reading a Free Preview Pages 6 to 11 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 15 to 20 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Bagi saya, bagian berat dalam mencari pekerjaan adalah menjaga hati. Karena kalau 'sekedar' bolak-balik luar kota untuk ikut psikotest dan interview, fisik saya insyaAllah beda dengan hati yang suka kita ga sadari berubah arah haluan. Dalam kurun beberapa bulan ini, saya sibuk nyari kerja sana sini. Hasilnya kebanyakan nihil. Ya gapapalah, namanya juga belum rezeki, ucap saya waktu itu. Ucapan ini selalu berhasil saya lontarkan di tiap kegagalan cari kerja dan emang saya let it flow sesuatu berubah ketika saya mulai mempertanyakan "apa yang salah ya dari persiapan saya?". Karena saya kerap cek common mistakes saya dalam hal teknis CV, psikotest, interview, dan saya perbaiki kok. Pertanyaan tadi ga salah, namun ketika pertanyaan itu berubah menjadi rasa ketidakPDan, maka hati saya rasanya sempit tiba-tiba. Belum lagi saya disuguhkan liat teman-teman saya yang rasanya sudah/sedang menuju puncak kejayaan di hidupnya. Serius, hati saya jadi sesak. Pandangan saya jadi kosong utk beberapa muncul lah rasa minder saya. Pertanyaan seperti "nanti kalo gabisa punya rumah atau aset gono gini gimana, ga kayak si itu yg udah punya ini itu?" spt bisikan iblis. Pikiran saya kerap memotivasi saya utk jatuh. Hati saya makin sesak."There must be something wrong with me"Iya. Saya bilang gitu karena saya biasanya gak gitu. Ah, emang dasar aja yasudah, isenglah saya sliweran di Youtube, cari hiburan. Ya beberapa video lucu cukup menghibur saya, tapi tidak mengisi atau meluaskan hati saya yang sempit. Saya sadar hati saya sempit, makanya saya butuh motivation sengaja, saya ketemu videonya Ust. Oemar Mita judulnya "Tanda Anda Sudah Menjadi Budak Dunia". Instan, saya langsung klik! Sepertinya sudah naluri. Memang Allah ingin saya melihat video itu video itu, ust. Oemar Mita menyebutkan beberapa hal tanda seseorang menjadi budak dunia. Tapi saya langsung mendapat motivation sparks saya di poin pertama. Apa yang pertama? Yaitu ketika ibadah kita diniatkan semata-mata untuk mendapatkan dunia. Shalat kita mungkin tuma'ninah, tapi dalam hati sebetulnya ingin agar kita dapat segenggam dunia. Sedekah, tapi niat biar kaya. Puasa, biar dapet kerja. Berbuat baik, biar mudah dapet jodoh. Lalu, beliau menyebutkan sebuah ayat dalam Al-Quran, yang membuat Sahabat paling menangis ketika membacanya. Yaitu surat Hud ayat 15-16ู
ูู ููุงูู ููุฑููุฏู ุงููุญูููุงุฉู ุงูุฏููููููุง ููุฒููููุชูููุง ููููููู ุฅูููููููู
ู ุฃูุนูู
ูุงููููู
ู ูููููุง ููููู
ู ูููููุง ูุงูููุจูุฎูุณูููู ุฃูููููุฆููู ุงูููุฐูููู ููููุณู ููููู
ู ููู ุงููุฃูุฎูุฑูุฉู ุฅููุงูู ุงููููุงุฑู ููุญูุจูุทู ู
ูุงุตูููุนููุง ูููููุง ููุจูุงุทููู ู
ููุงููุงูููุง ููุนูู
ูููููู"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakanโ Referensi Dari sini saya langsung mempelajari 2 hal. Pertama, ibadah saya. Saya coba cek ibadah saya, seperti shalat dan puasa ramadhan, apa jangan-jangan selama ini ibadah saya diniatkan cuma biar dapet kerja. Apa sedekah saya diniatkan agar saya dapat harta berlimpah ruah dan jodoh? Apa kebaikan saya selama ini saya niatkan agar Dia kasih keinginan dunia tentang akhir dari segalanya. Saya lupa, hidup ini bukan cuma tentang mencari pekerjaan, harta, jodoh, kekuasaan, harta, dll. Saya lupa bahwa ada kehidupan abadi, akhir dari dunia tapi awal dari segalanya. Saya lupa bahwa bumi ini kecil. Saya lupa kalo bumi dibanding langit pertama hanya seperti cincin di padang pasir. Kenapa saya jadi sefana ini?Akhirnya saya menyadari bahwa saya menaruh dunia ini di hati saya. Wajar hati saya jadi sempit. Padahal harusnya dunia ini hanyalah di genggaman tangan.
dunia di genggaman akhirat di hati